Sabtu, 16 April 2011

Makalah Nuzulul Qur'an


NUZULUL QUR’AN
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu : Nur Asyiah, H. M. Si


 






Disusun Oleh:
Muh. Khabib (103711033)
                                     

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
                                                 2011                                                

PENDAHULUAN

Tidaklah tersembumyi bagi siapapun juga bahwa tiap-tiap sesuatu dan ada kadarnya. Demikianlah sunnatullah didalam alam ini. Sejarah adalah saksi yang benar menetapkan kebenaran ini. Seseorang ahli sejarah yang hendak menggali sesuatu dari perkembangan sejarah harus mengetahui sebab-sebab kejadian dan pendorong-pendorongnya, jika dia ingin mengetahui hakikat sejarah itu sebenaranya, bukan sejarah saja yang memerlukan hal demikian, ilmu-ilmu tabi’at, ilmu-ilmu kemasyarakatan dan kebudayaan serta kesusastraan juga memerlukan sebab dan musabab.
Turunnya AlQur’an merupakan suatu kejadian yang sangat mengagetkan sekaligus menggembirakan hati Rasulullah SAW. Sebagaimana turunnya Surat Al-‘alaq(ayat:1-5), Nabi Muhammad SAW  dalam menerimanya sangatlah berat karena karena diturunkan lewat perantara malaikat jibril sesosok yang membuat Nabi SAW ketakutan. Saat malaikat jibril menyampaikan wahyu tersebut, Rasullullah juga merasa keberatan karena tidak bisa melaksakan apa yang diperintah malaikat jibril. Tetapi setelah berkali-kali malaikat jibril mengulang akhirnya Rasullah SAW dapat menerimanya. Begitupun saat menerima ayat-ayat yang lain, Rasulullah selalu merasa ketakutan dengan segala sesuatu yang mengiringi ayat-ayat tersebut.
Begitu sulitnya Rasulullah dalam menerima wahyu membuktikan kalau peristiwa turunnya Al Qur’an merupakan suatu kejadian yang sangat luar biasa dan juga merupakan suatu . Dengan turunnya Al Qur’an berarti banyak hal yang perlu dikaji lebih mendalam lagi, baik dari segi sebab-sebab turunnya atau yang sering disebut Asbabun Nuzul maupun proses turunnya Al Qur’an itu sendiri.
Dalam Makalah ini pembahasannya hanya terkait tentang proses turunnya Al Qur’an saja atau yang sering disebut ilmu nuzulul Qur’an. Dengan mempelajari pembahasan masalah tersebut akan diketahui bagaimana arti sebenarnya  nuzulul Qur’an itu sendiri, bagaimana tahapan-tahapan turunnya ayat-ayat tersebut, serta bagaimana bisa ayat-ayat tersebut diturunkan di Makkah maupun di Madinah.





       I.            RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian Nuzulul Qur’an dan tahap turunnya?
2.      Apa dalil dan hikmah di turunkannya Al Qur’an secara berangsur-angsur?
3.      Bagaimana ciri-ciri surat makkiyah dan madaniah?
4.      Bagaimana pemeliharaan Al Qur’an pada masa nabi SAW dan Khulafaurrasyidin?

 III.      PEMBAHASAN
1.      Pengertian Nuzulul Qur’an dan tahap turunnya
a.       Pengertian Nuzulul Al Qur’an
Dalam kaitan turunnya Al Qur’an sering disebutkan dengan kata-kata seperti nuzul (نزول), inzal (إنزال), tanazzul (تنزّل), tanzil (تنزيل), dan munazzal (منزّل) yang masing-masing berati turun, menurunkan, hal turun, proses penurunan, dan yang diturunkan. Perlu diketahui, bahwa bahwa setiap kata mempunyai dua fungsi makana, yakni makna dasar (harfiyah, etimologik) dan makna termi-nonlogik (relasional). Adapun makna-makna di atas merupakan fungsi makna dasar. Sedangkan makna relasionalnya dapat diikuti uraian berikut ini.
            Az Zarqani menjelaskan bahwa kata nuzul mempunyai makna dasar (perpindahan sesuatu dari atas ke bawah) atau (suatu gerak dari atas kebawah). Menurutnya, dua batasan tersebut memang tidak layak diberikan untuk maksud diturun-kannya Al Qur’an oleh Allah, karena keduanya hanya lebih tepat dan lazim dipergunakan dalam hal yang berkenaan dengan tempat dan benda atau materi yang mempunyai berat jenis (BJ) tertentu. Sedangkan Al Qur’an bukan semacam benda yang memerlukan tempat perpindahan dari atas ke bawah. Tapi yang benar adalah memahami bahwa kata nuzul itu bersfat majazi, yakni pengertian nuzul Al Qur’an bukan tergambar dalam wujud perpindahannya Al Qur’an, atau Al Qur’an itu turun dari atas ke bawah, tetapi harus di pahami sebagai pengetahuan bahwa Al Qur’an telah diberitakan oleh Allah SWT kepada penghuni langit dan bumi. Di sini terkandung maksud bahwa nuzul harus di ta’wilkan dengan kata i’lam yang berarti pemberitahuan atau pengajaran. Maka nuzul Al Qur’an berarti proses pemberitaan atau penyampaian ajaran Al Qur’an yang terkandung di dalamnya.(Syakur, 2007: 31-32)

b.      Tahapan Nuzulul Qur’an
Dipandang dari segi filososfis maupun teologis, Al Qur’an di turunkan melalui tiga tahapan, yaitu:
Pertama : Al Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke lauh mahfudh oleh Allah.
Kedua : Al Qur’an diturukan dari lauh mahfudh ke langit dunia (bait Al ‘izzah) pada lailatul qadr secara keseluruhan.
Ketiga : Al Qur’an diturunnkan secara berangsur-angsur dari langit dunia (Bait Al ‘izzah) melalui malaikat jibril as. kepada nabi Muhammad SAW. (Syakur, 2007 :: 39)
2.       Dalil dan hikmah di turunkannya Al Qur’an secara berangsur-angsur
a.       Dalil turunnya Al Qur’an secara berangsur-angsur.
Di depan telah dijelaskan, bahwa nuzul Al Qur’an berlangsung melalui tiga tahapan. Dan tahapan terakhir adalah bahwa Al Qur’an diturunkan dari langit dunia (Bait al ‘Izzah) kepada Rasulullah SAW. Banyak dalil yang mendukung bahwa  Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dari Al Qur’an maupun hadits nabi. Diantaranya:
a)      ( surat al Isra’ ayat 106)
وقرانافرقنه لتقراه على النّاس على مكث ونزلنّه تنزيلا - الإسرإ ١٠٦
Artinya : Dan Al Qur’an yang kami pisah-pisah agar engkau membacakannya kepada manusia pada suatu tempat dan kami menurunkannya secara berangsur-angsur. (khadim, 1967, 440)

b)      Riwayat al Hakim dan al Baihaqi melalui ibnu ‘Abbas ra,:
انزل القران جملة واحدة إلى سمإ الدنيا وكان بمواقعِ النجوم وكان الله ينزله على رسوله بعضه في إثربعض
Artinya : Al Qur’an diturunkan dalam bentuk keseluruhan kelangit dunia yang berada pada tempat bintang-bintang, sedangkan allah menurunkannya kepada rasulNya sebagian demi sebagian. (Syakur, 2007, 41)
Bukti lain yang menyatakan bahwa Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur adalah bahwa sebagian ayat-ayatnya ada yang merupakan jawaban bagi pertanyaan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.
b.      Hikmah di turunkannya Al Qur’an secara berangsur-angsur.
Turunnya Al Qur’an secara berangsur-angsur tidak hanya disebabakan karena Al Qur’an itu lebih besar dan kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelumnya, melainkan juga karena adanya beberapa hikmah, sehigga Al Qur’an itu di turunkan secara berangsur-angsur.
Hikmah tersebut antara lain ialah:
1)   Bahwa diturunkanya AlQur’an secara berangsur-angsur itu adalah untuk menguatkan dan mengokohkan hati Rosulullah sendiri.
2)   Hikmah lainnya adalah, bahwa dengan turunya Al Qur’an secara berahap itu, juga memudahkan bagi  kaum muslimin yang pada masa itu ummnya masih buta huruf, untuk mempelajari dan menghafalkan serta menerangkan ayat-ayat Al Qur’an itu dalam kehidupan sehari-hari.
3)   Turunnya Al Qur’an secara bertahap itu adalah untuk menyesuaikan degan kepentigan Rasulullah dan kaum muslimin serta perkembangan yang mereka alami dari masa ke masa.
4)   Turunnya Al Qur’an secara bertahap adalah sangat sesuai dengan sunnatulah yang berlaku di alam ini. Bahwa “segala sesuatu harus terjadi dengan bertahap”. Dari kecil menjadi besar, dari sedikit menjadi banyak dll.
Sesuatu yang terjadi secara bertahap, akan dapat berjalan dengan lancar, dan dapat di terima dengan baik, serta mendatangkan faedah yang yang kita harapkan. (Syadali dan Rofi’i, 2000: 59-63)
            Demikianlah Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur karena ia akan membawa perubahan yang besar. Dia akan membawa bermacam-macam peraturan yang berisi semua perintah-perintah dan larangan-larangan.
3.      Ciri-ciri surat Makkiyah dan Madaniah.
a.       Ciri-ciri surat yang turun di Mekkah.
1)      Terdapat ayat yang dimulai dengan dengan seruan (يايهاالناس)
2)      Setiap surat yang memuat kisah Nabi Adam bersama iblis, kecuali kisah Nabi Adam yang terdapat dalam surat Al Baqarah adalah turun di madinah.
3)      Setiap surat yang menyebutkan masalah atau kisah-kisah umat terdahulu, di tambah dengan azab atau siksaan tuhan yang ditimpakan pada mereka.
4)      Pada umumnya surat yang di turunkan di Makkah ayatnya pendek-pendek, gaya bahasanya tegas, padat, dan berisi, dan mempunyai balaghah yang sangat tinggi. Dan lain-lain. (Amin, 1993, 167)

b.      Ciri-ciri surat yang turun di Madinah.
Sebagaimana halnya pada surat-surat Makkiyah, pada surat-surat yang di turunkan di Madinah pun memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Terdapat ayat yang dimulai dengan (يايهاالذين امنوا).
2)      Setiap ayat membicarakan tentang soal hukum, fardu dan  masalah sosial kemasyarakatan.
3)      Pada umumnya surat Madaniah panajang-panjang, gaya bahasanya lebih bersifat yuridis, intruksi, formal, panjang dan lain-lain.
4)      Surat yang di dalamnya terdapat izin berperang, atau menyebut sosisal peperangan dan menjelaskan hukum-hukumnya. Dan lain-lain. (Amin, 1993, 168)
4.      Pemeliharaan Al Qur’an pada masa nabi SAW dan Khulafaurrasyidin
a)      Pada masa Nabi Muhammad SAW.
Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur'an, diantaranya mereka yang banyak menuliskan Al Qur’an adalah Zaid bin Tsabit al anshari ra. dan Muawiyah ra. Dan pada waktu itu terdapat sistem yang sinergik dalam memelihara al Qur’an yang meliputi tiga unsur, yakni :
1)      Hafalan dari mereka yang menghafal al Qur’an secara sempurna,
2)      Naskah-naskah yang ditulis oleh sahabat untuk nabi.
3)      Naskah-naskah yag ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca utuk diri mereka masing-masing. (Syakur, 2007, 46-47)
Sahabat lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang.
b)      Penulisan pada masa Khulafaurrasyidin.
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan 70 orang penghafal Al-Qur'an gugur dalam pertempuran itu. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan semakin sedikitnya penghafal al-qur'an yang masih hidup. keadaan tersebut Umar bin Khattab meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur'an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar menerima pendapat Umar tersebut. Kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Kemudian ia mengumpulkan ayat al-Qur'an dari daun, pelepah kurma, batu, tanah keras, tulang unta atau kambing dan dari sahabat-sahabat yang hafal Al Qur’an. Dengan demikian Al-Qur'an seluruhnya telah tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya.
Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur'an (qira'at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam di masa depan.
 IV.      KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa, nuzulul Qur’an merupakan  peristiwa turunnya Al Qur’an dari langit kebumi kepada Rasulullah SAW melalui malaikat jibril secara berangsur-angsur berdasarkan kejadian-kejadian ataupun peristiwa-peristiwa yang didalmnya berisi pemberitahuan atau penyampaian ajaran-ajaran. Dan prosesnya tersebut bukan seperti benda yang dijatuhkan dari atas kebawah, melainkan yang dimaksud proses turunnya(nuzul) disini ialah cara penyampaiannya. Baik itu sebelum Rasullah Hijrah maupun saat beliau hijrah.



 V.       PENUTUP
Demikian makalah ini penulis buat. Apabila dalam makalah ini ada kesalahan dan kekurangan mohon dimaafkan karena penulis hanyalah mausia yanng penuh salah dan lupa. Kritik dan saran sangat kami harapkan guna perbaikan dikemudian hari dan semoga makalah ini bemanfaat bagi orang yang membacanya.


DAFTAR PUSTAKA

Syakur Sf, M, ‘Ulumul al-Qur’an, semarang : PKPI2-FAI Universitas Wahid Hasyim, 2007.
Amin, Moh, dkk, Qur’an Hadits II, Jakarta : Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama islam, Universitas Terbuka, 1993.
Syadali, Ahmad dan Rofi’i, Ahmad, ‘Ulumul Qur’an I, Bandung : CV Pustaka Setia, 2000.
http ://www.google.nuzulul qur,an.com/




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar